Cerpen: Cerita dibalik Pohon Mangga Milikku - Ide Nasional

Breaking

Sunday, December 16, 2018

Cerpen: Cerita dibalik Pohon Mangga Milikku

Sebuah pohon mangga tumbuh di samping rumahku. Batangnya tinggi besar, dan berdaun lebat. Setiap saat aku berada di bawahnya, biasanya sih pada siang atau sore hari. Badanku sungguh nyaman di bawah naungan pohon mangga tersebut, seakan tubuhku tak mau jauh-jauh darinya. Paling nikmat rasanya jika di bawah pohon mangga sambil membaca buku, udara yang sejuk membuat aku lebih mudah dalam memahami apa yang kubaca. Terlebih ketika angin berhembus, serasa diriku berada di Belanda.

Aku tidak pernah tahu mengapa pohon mangga tersebut tumbuh di samping rumahku. Seingatku tidak ada yang pernah menanam pohon mangga di samping rumahku, atau mungkin saja pohon mangga tersebut tumbuh dengan sendirinya. Entahlah, yang jelas dengan adanya pohon mangga tersebut, aku bisa makan buah mangga gratis saat musim buah.

Pohon mangga tersebut sudah lima tahun berbuah.Buahnya besar-besar dan sangat manis. Kalau dikampungku di Paccellekang, biasa disebut “Taipa Kangrejawa”. Tetapi, dibalik itu semua, kalau selama ini aku perhatikan, serasa ada yang aneh dari pohon mangga tersebut. Jika sebagian pohon mangga yang berbuah, banyak sedikit buahnya akan busuk dimakan ulat, kecuali yang pakai peptisida ya, nah kalau buah mangga dari pohon tersebut tidak pernah sekalipun kutemui buah yang busuk dimakan ulat. Palingan dimakan burung atau kelelawar, itu saja.

Kemudian, bentuk dari pohon mangga tersebut sangat aneh, anehnya karena pohon mangga itu memiliki begitu banyak cabang. Ya, cabangnya begitu banyak, sampai-sampai ada tetanggaku yang memberi julukan pohon mangga itu yakni pohon seribu cabang. Ya walaupun agak aneh menurutku, tetapi aku tetap bersyukur kepada Tuhan, karena telah mengaruniakan pohon mangga tersebut kepadaku.

Bagi sebagian orang, sebuah pohon mangga mungkin tidak bernilai, tetapi bagi seorang remaja miskin sepertiku, itu sangatlah bernilai. Ya, dengan pohon mangga yang rutin berbuah setiap tahunnya menjadi berkah tersendiri. Aku bisa menjual buah-buah mangga yang telah matang, biasanya aku jual dengan harga Rp 1.000,00/buah. Memang sih harganya cukup murah, tetapi harga begitu belum mampu mengetuk hati dan selera sebagian masyarakat kampung.

Pasalnya hampir sebagian besar dari mereka memiliki pohon mangga sendiri. Aku tak kehabisan akal, minggu lalu, sepupu jauhku yang bernama Daeng Tanjeng bertandang ke rumahku. Dia berhajat untuk membeli semua buah mangga milikku. Aku tidak mengiyakan begitu saja penawarannya, karena kupikir harganya akan jauh lebih murah. Sehingga kukatakan padanya jika penawarannya akan kupikirkan terlebih dahulu, oleh karena itulah dia menitipkan nomor ponselnya. Dengan harapan, aku menghubunginya jika aku mau menjual buah manggaku.

Tidak ada pilihan lain, aku mesti menjual buah-buah mangga yang telah matang tersebut ke Daeng Tanjeng. Daripada buah-buah mangga tersebut menganggur di atas pohon, salah-salah buah mangga itu jadi santapan nikmat para burung dan kelelawar yang kelaparan. Lagian, ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, hanya lewat penjualan buah-buah mangga itu, masalahku akan selesai. Aku memang manusia yang begitu akrab dengan masalah, Mungkin karena kata “masalah” adalah  kependekan dari namaku yakni Mahmud Saputra Lahwi.

Dua hari kemudian, Daeng Tanjeng datang ke rumahku. Dia begitu senang karena aku akhirnya menjual buah-buah mangga itu kepadanya. Dengan wajah sumringah, dia lantas memetik buah-buah mangga yang telah matang langsung dari pohonnya. Setelah selesai, dia menadahkan sejumlah uang kepadaku. Walau jumlahnya tidak seberapa, tetapi cukuplah menutup rapat mulut Daeng Romba. Ya, Daeng Romba itu adalah pemilik warung yang berada tepat di depan rumahku. Setiap hari dia mengoceh terus, sampai mulutnya berbusa, dia seperti itu ada penyebabnya. Penyebabnya karena aku punya utang kepadanya dan belum kubayar.

Barusan batinku lega selesai membayar utang, eh tiba-tiba aku tersadar jika aku belum melunasi biaya SPP sekolahku. Hasil penjualan mangga nyatanya hanya cukup membayar utang ke Daeng Romba. Aku begitu bingung dan takut, karena jika aku tak melunasinya, maka aku bakal dikeluarkan dari sekolah. Tidak, aku tidak mau dikeluarin, itu akan serasa kiamat bagiku.

Malamnya, aku duduk di teras rumahku. Malam itu hatiku berkecamuk, air mataku berusaha menetes tapi kutahan. Perih rasanya, aku tak kuasa menjalani hidup yang begitu pahit. Aku sungguh tidak ingin dikeluarkan dari sekolah, di sisi lain aku tak punya uang sepeserpun. Di tengah kesedihanku, tiba-tiba sang rembulan tersenyum padaku, sementara bintang-bintang saling berkejar-kejaran, aku serasa dibuai. Segera kutampar wajah imutku, karena kutahu yang kulihat hanya ilusi semata. Namun, entah mengapa aku tiba-tiba mengingat sesuatu. Ternyata, baru aku ingat bila diriku mempunyai ayam jantan yang telah lama kusembunyikan di bawah ranjang. Bukan sembarang ayam, ayam ini berisi sejumlah uang dari hasil penjualan buah manga dua tahun lalu. Segera kupecahkan tabunganku untuk membayar biaya SPP sekolahku.

Paginya, seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Aku merasa lega karena bisa melunasi biaya SPP sekolahku, terlebih lagi aku telah bebas dari rayuan setan yang bernama Rendi. Ya, dia teman kelasku yang sangat terobsesi dengan pacarku yaitu Ayu. Sampai-sampai dia menawarkan untuk membayarkan SPPku asalkan aku mau memutuskan Ayu. Aku jelas tidak sudi, walau bagaimanapun Ayu tidak akan kulepaskan dari genggamanku, aku sangat mencintainya. Bukan waktu itu saja, dia bahkan beberapa kali mencelakaiku dengan teman-temannya. Seperti di suatu siang, aku tengah berjalan untuk pulang ke rumah selepas dari sekolah. Eh, tiba-tiba Melintas di depanku Rendi beserta dua kawannya. Dia berhenti pas di depanku, dia pun turun dari motornya.

“Berhenti kau anak kampung!”

“Apa maumu Rendi?” tanyaku.

“Jangan belagak sok tidak tahu, kau memang patut diberi pelajaran ya”.

“Dengar ya, sampai kapan pun aku tidak akan memutuskan Ayu. Dia pacarku, kau tidak punya hak untuk mengaturku”. Kataku agak emosi.

“Berani kamu ya, teman-teman sikat!”.

Aku dihajar habis-habisan oleh Rendi dan dua kawannya. Aku sempat melawan, tetapi apalah daya mereka menghajarku secara bersama-sama. Wajahku ditonjok hingga babak belur seperi telur puyu. Wajah tampanku telah hancur gara-gara Rendi dan kawan-kawannya. Waktu itu suasana sedang sepi, sehingga mereka dengan mudahnya mengeroyokiku. Namun, sekeras apapun Rendi mencelakaiku, aku tidak akan memutuskan Ayu. Terlepas dari itu semua, satu hal yang selalu aku syukuri yaitu melalui pohon mangga tersebut, setidaknya masalah dalam hidupku sedikit berkurang.

Kini, cerita dari pohon mangga tersebut hanya tingal kenangan. Karena tanpa terduga, ada yang sampai tega menebang pohon mangga tersebut. Peristiwa itu terjadi dua hari setelah kepergianku ke Malino. Aku tak tahu mengapa ada orang yang tega menebang pohon manga tersebut, seingatku selama ini tidak ada masalah apapun yang ditimbulkan dari pohon mangga itu.

Baru belakangan ini, pelakunya akhirnya terbongkar. Berdasarkan penuturan Daeng Romba, dia melihat Daeng Nai menebang pohon mangga milikku. Tanpa berpikir panjang, segera kumenemui Daeng Nai di rumahnya. Saat aku menanyakan alasan Daeng Nai menebang pohon mangga milikku, aku terkejut setengah mati mendengar alasannya. Beberapa kali diriku menanyakan kepada Daeng Nai mengenai perkataannya. Oh my God, aku sungguh tidak percaya, beberapa kali wajahku kutampar, aku tidak mimpi kan, kataku dalam hati. Sungguh, aku begitu terkejut, pasalnya pelaku tersebut adalah seorang wanita yang seumuran denganku bernama Ayu.

Ya, Ayu pacarku, dia yang telah menyuruh Daeng Nai untuk menebang pohon mangga milikku. Alasannya karena gara-gara pohon mangga itu aku tidak jadi memutuskannya. Dia ternyata diam-diam mencintai Rendi, dan ingin menghancurkanku. Selama ini dia hanya sok baik dihadapanku, dia tidak pernah mencintaiku. Hatiku begitu sakit, lebih sakit ketimbang ditusuk pedang. Itu yang kurasakan ketika dia memutuskanku sehari setelah kejadian tersebut.

sastra

cerita-pendek,cerpen

cerita-pendek,cerpen


Artikel yang berjudul “Cerpen: Cerita dibalik Pohon Mangga Milikku” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment