Cerpen: (Meng)Ikhlas(kan) – Doripos - Ide Nasional

Breaking

Saturday, December 15, 2018

Cerpen: (Meng)Ikhlas(kan) – Doripos

Azofiyan 2017

 “Darurat Gempa Indonesia”

“Wah serem banget ya, gempa di Palu itu. Sampai tsunami gitu.” Adam merespon tajuk berita yang dibawakan oleh pembawa acara. Aku menoleh juga ke televisi karena penasaran.

“Ya sudah takdirnya, Dam.” Balasku singkat.

Adam terus memerhatikan televisi yang kini menampilkan video amatir detik-detik terjadinya tsunami. Suara teriakan orang-orang yang terus menyebut lafaz Tuhannya menggugahku untuk melirik lagi ke televisi.

Benar saja, melalui video amatir itu sudah terlihat cukup jelas di mana surutnya air laut sebelum tsunami terjadi. Orang-orang ribut berlarian ke tempat tinggi, satu-dua memperingatkan orang yang masih ada di bawah untuk segera naik ke atas.

“Bu cepet naik bu! Tsunami itu!” teriak orang yang merekam video amatir itu pada seorang ibu di bawah.

Video selanjutnya berganti saat tsunami telah menerjang Kota. sangat jelas air laut itu dengan kencang dan tampa ampun menggilas habis rumah-rumah yang ada di depannya. Kembali, orang-orang berteriak histeris, menyebut nama Tuhannya. Meminta pertolongan pada Yang Maha Kuasa.

Aku meletakkan buku yang aku baca, seleraku membacaku hilang. Kini aku lebih tertarik bergabung bersama Adam, menyaksikan cuplikan video-video amatir korban gempa.

“Ugh, lihat itu Bran! Pohonnya bergerak! Dengar suaranya, menyeramkan sekali..”

“Iya, aku lihat Dam! Gak usah diperjelas juga, seram tahu!” aku menyikut Adam, tapi memang benar, kini giliran video saat gempa terjadi yang ditampilkan. Suara bergemuruh, pohon yang bergerak, tower listrik bergerak miring sampai permukaan tanah yang terbelah.

“Kalau begini kita jadi terasa kecil ya?” ujar Adam tiba-tiba.

“Maksudnya Dam?”

Adam menoleh padaku. Diam sejenak, lalu selang beberapa detik kemudian dia mulai bicara dengan tangannya yang menunjuk ke televisi. “Lihat itu Bran. Gempa itu dengan mudah menghancurkan bangunan, tsunami saja langsung melahap habis rumah, mobil atau sekalipun orang yang tak sempat menyelamatkan diri.” Emosi Adam tersulut, suaranya mengeras. “Lihatlah betapa tidak bergunanya kita dihadapan bencana ini, dihadapan Allah yang memberikan bencana ini. Kita mahluk lemah, tak sanggup berbuat apa-apa..” lanjutnya dengan suara yang melunak di akhir kalimat.

Aku terdiam sejenak. Adam benar. Kita mahluk lemah. Mau sekaya apapun kita, setinggi apapun jabatan, tidak ada gunanya jika sudah berhadapan dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri di dunia yang fana ini.

“Kita harus bantu mereka Dam.”

“Kamu benar. Paling enggak kita bisa meringankan beban mereka. Ah lihat tuh! Ada list barang-barang yang dibutuhkan korban gempa!” Adam sontak menunjuk ke arah televisi. Aku dengan cepat mengambil handphone di sebelahku, lalu memotret list kebutuhan itu.

“Gimana kalau kita bikin galang dana Dam? Gak mesti uang sih, lebih baik barang-barang yang ada di list ini.”

“Ide bagus Bran! Nanti penyalurannya bisa lewat organisasi kampus aja!”

Aku mengangguk. Rencana penggalangan dana dan pengumpulan sumbangan untuk korban gempa sudah disetujui.

***

“Ayo yang mau menyumbang barang-barang untuk korban gempa! Sumbangan sekecil apapun sangat berarti bagi mereka! Sisihkan sedikit rezekimu, sumbangkan pakaian atau makanan!” Adam berseru lantang di pintu gerbang kampus. Berusaha untuk menarik perhatian mahasiswa yang menuju kampus atau orang-orang yang berlalu-lalang. Sementara aku berkeliling di sekitaran gerbang untuk mencari sumbangan.

Matahari telah sampai pada puncak tertingginya kala itu. Sudah memasuki siang hari, Aku dan Adam masuk ke tenda yang sudah disiapkan khusus untuk menjadi posko bantuan korban gempa.

“Dapat berapa?” tanya seorang teman, perwakilan dari Badan Eksukutif Mahasiswa pada kami.

“Gak begitu banyak mas.” Aku menunjukkan kardus air mineral berisikan jumlah uang yang tidak begitu banyak.

“Sama mas.” Adam juga menyahut, tapi jumlah yang dia dapat sedikit lebih banyak dariku.

“Alhamdulillah, gak papa. Penting yang nyumbang sudah ikhlas.” Dia tersenyum ramah pada Aku dan Adam. “Ayo ini ada nasi kotak, makan dulu.” Lanjutnya menunjuk nasi kotak di sudut tenda.

Aku dan Adam saling tatap. Kami tidak menyangka akan diberikan makan siang gratis.

“Terima kasih mas.” Ujar kami bersamaan.

Setelah makan nasi kotak gratis dengan hati riang dan beristirahat sejenak. Perut dan energi kami sudah terisi. Saatnya kembali menggalang dana. Matahari sudah tidak begitu bersinar terik, posisinya sudah mengarah ke barat. Hembusan angin membuat awan mulai bergabung dengan matahari. Menciptakan suasana teduh dengan angin yang cukup melegakan di siang yang terik ini.

“Suasananya enak Bran, jadi pingin tidur.” Adam menutup mulutnya dengan tangan kiri, dia menguap.

“Jangan aneh-aneh. Ke mana semangatmu tadi?” balasku.

“Iya-iya. Paham.” Adam mengambil megaphone  yang tadi dia pakai, bersiap untuk berorasi kembali. Tapi gerakannya terhenti.

“Aku ragu Bran. Apa ada yang mau nyumbang? Hasil yang kita dapat aja gak seberapa.”

Aku tersenyum kecut. “Jangan patah semangat, Dam. Mungkin kita kurang ikhlas melakukan kerjaan ini, makanya gak ada yang mau nyumbang.”

Adam terkekeh. “Mungkin ada benarnya juga.”

Adam kembali melanjutkan orasinya. Berteriak dengan lantang, mencoba menggugah rasa kemanusiaan orang-orang. Aku di sampingnya, ikut berteriak memohon sumbangan. Sesekali berkeliling. Sampai pada suatu waktu, seorang anak kecil berpakaian lusuh datang pada kami.

“Iya kenapa dik?” tanyaku.

“Mas aku mau nyumbang.”

“Eh, iya silahkan.” Aku tersenyum, lalu mengulurkan kardus pada anak kecil itu.

Tiba-tiba anak kecil itu melepas pakaian lusuh yang dia pakai. Lalu menaruhnya di kardus yang kubawa.

“Lho dik, kok bajunya disumbangkan? Nanti kamu pakai baju apa?” tanyaku dengan nada terkejut.

“Gak papa mas. Aku ada baju lain. Kasihan temen-temen di sana pasti gak punya baju ganti.” Anak kecil itu menjawab polos.

Hatiku terenyuh, begitu mulianya hati anak kecil ini dengan polosnya memberikan baju yang mungkin satu-satunya dia miliki untuk disumbangkan. Ikhlas bukan masalah materi, tapi masalah hati.

Aku tersenyum penuh haru, lalu mengusap kepalanya. “Iya dik. Kakak pastikan baju kamu dipakai sama temen-temen di sana ya.”

Adik kecil itu tersenyum gembira. Dia menyalamiku, kemudian langsung pamit untuk pergi. Aku melambaikan tangan padanya sambil berkata hati-hati di jalan.

“Anak kecil tadi..” Adam berkata dari sampingku. “Berhati baik.” Sambungnya.

“Ya. Semoga Allah membalas kebaikan hatimu, dik.” Aku tersenyum. Sedetik kemudian kembali berteriak dengan penuh semangat, tidak mau kalah dari Adam yang menggunakan megaphone.

Kita tidak tahu kapan bencana akan datang. Kapan cobaan dari Allah akan datang, atau kapan murka Allah akan datang. Semuanya atas kehendak Allah.

Untuk teman-teman di Donggala, Palu. We are with you and of course, Allah always by your side.

sastra

cerpen,donggala,gempa,gempa-donggala,palu,sastra

cerpen,donggala,gempa,gempa-donggala,palu,sastra


Artikel yang berjudul “Cerpen: (Meng)Ikhlas(kan) – Doripos” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment