Mengusut Teror di Hari Kemerdekaan - Ide Nasional

Breaking

Sunday, August 18, 2019

Mengusut Teror di Hari Kemerdekaan

Imam Musthofa, penyerang anggota Polsek Wonokromo, Surabaya diduga terpapar paham radikal dari internet. Berdasarkan penyelidikan sementara, pelaku diduga mempelajari terorisme melalui konten Aman Abdurrahman.

Diketahui 10 hari sebelum kejadian, Imam berangkat dari tempat tinggalnya di Sumenep menuju rumah kos di Jalan Sidosermo IV, gang I, nomor 10 A, Surabaya menggunakan angkutan umum Bus.

Imam dikenal pendiam dan jarang berkomunikasi dengan warga sekitar. Bahkan akhir-akhir ini, pelaku terlihat makin keras tentang pemahaman keagamaannya.

“Pelaku belajar dari media sosial Facebook,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera, Sabtu (17/8/2019).

Barung Mangera menyampaikan, pelaku berinisial IM saat ini dibawa oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri dari Polsek Wonokromo.

“Sementara diduga melakukan amaliyah. Indikator amaliyah itu dari pembelajaran yang disampaikan pelaku tadi,” tutur Barung.

Barung menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan penyelidikan secara komprehensif. “Pelaku penyerangan itu perseorangan,” ucap Barung.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, pelaku penyerangan terhadap anggota Polsek Wonokromo, Jawa Timur, melakukan radikalisasi diri sendiri atau self radicalism dengan melihat internet.

“Sementara info yang saya dapat dari Densus 88 maupun Polda Jatim, tersangka ini self radicalism, radikalisasi diri sendiri karena melihat online, dari gadget, internet,” kata Tito di Jakarta, Minggu (18/8/2019).

Menurut Tito, berbekal berselancar di internet pelaku berinisial IM kemudian meyakini pemahaman interpretasi jihad versi dirinya sendiri dengan mendatangi Polsek Wonokromo dan menyerang petugas.

“Polisi dianggap thogut karena bagi mereka, polisi selain thogut juga dianggap kafir harbi karena sering melakukan penegakan hukum kepada mereka, sehingga bagi pelaku melakukan serangan kepada kepolisian dianggap bisa mendapat pahala,” ujar Tito.

Tito berencana memberikan penghargaan berupa kenaikan pangkat luar biasa kepada anggota Polsek Wonokromo yang terluka. Dia juga akan mengevaluasi sistem keamanan di polres, polsek hingga polda.

“Kalau memang ada jaringan, maka semua jaringannya harus ditangkap. Undang-undang baru nomor 5 tahun 2008 memberikan kekuatan cukup besar kepada penegak hukum, kepada negara untuk menangani jaringan terorisme. Kasusnya akan kita kembangkan terus, kita akan tangkap siapapun yang terlibat,” tegas Tito.

Sementara itu, kondisi anggota SPKT Polsek Wonokromo yang menjadi korban penyerangan, Aiptu Agus mulai membaik setelah menjalani operasi. Dia telah dipindah dari ruang ICU dan saat ini dipindah ke RS Bhayangkara Polda Jatim.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Sandi Nugroho menyampaikan, pelaku menyerang korban pada bagian tubuh yang vital yakni leher. Beruntung korban bisa menghindar dan mengenai pada bagian yang lain.

“Alhamdulillah tadi pagi saya habis ke sana, menjenguk polisi yang jadi korban. Alhamdulillah semalam sudah langsung dioperasi. Hari ini kondisinya sudah membaik. Mudah-mudahan bisa pulih untuk kerja lagi,” tuturnya, Minggu (18/8/2019).


Artikel yang berjudul “Mengusut Teror di Hari Kemerdekaan” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments:

Post a Comment