Meski datang tanpa peringatan, tsunami Selat Sunda Sabtu malam lalu konon telah diprediksi oleh para ilmuwan.
Prediksi itu disajikan secara detail dalam makalah berjudul Tsunami hazard related to a flank collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia yang ditulis Dr Thomas Giachetti dari University of Oregon dan sejumlah ilmuwan.
Seperti dimuat volcanodiscovery.com, makalah tersebut diterbitkan pada Januari 2012. Makalah tersebut memuat hasil pemodelan numerik yang menyimulasikan destabilisasi sebagian besar Gunung Anak Krakatau ke arah barat daya yang disusul pembentukan dan penyebaran tsunami.
Pulau Anak Krakatau tumbuh dengan pesat sejak kemunculannya dari dalam laut kali pertama diketahui pada 1928, setelah Krakatau meledakkan diri pada 1883. Di tengahnya ada kaldera yang dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.
Sejak saat itu, dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun, ia membangun kerucut yang tumpang tindih dan rentan ambrol selama beberapa periode erupsi — yang terakhir mulai pada Mei 2018 dan hingga kini masih berlangsung.
Pulau Anak Krakatau dibangun dekat dan berada di atas lereng bawah laut yang curam, margin timur laut cekungan kaldera yang ditinggalkan oleh letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883. Itu mengapa, pulau tersebut rentan terhadap kegagalan gravitasi lereng (gravitational flank).
This picture explains how the Indonesia volcanic tsunami was generated. Many volcanic eruptions cannot generate tsunami. The Krakatoa volcanic mass should have been very large; probably a volume of a few kilometers cubed #IndonesiaTsunami #Krakatoa #Tsunami #Indonesia pic.twitter.com/lQCx3yrAgg
— Dr Mohammad Heidarzadeh (@Mo_Heidarzadeh) 23 Desember 2018
Konskuensi dari topografi bawah air ini, dikombinasikan dengan arus laut yang kuat, lereng barat Anak Krakatau telah berkembang menjadi jauh lebih curam daripada di sisi timur.
Jika terjadi, longsor di sepanjang lereng tersebut akan diarahkan ke kaldera Krakatau pada 1883 dan akan memicu gelombang yang akan merambat ke Selat Sunda dan pecah di wilayah pesisir.
Permodelan yang dibuat Dr Thomas Giachetti dan sejumlah ilmuwan juga memperkirakan ketinggian gelombang di sejumlah lokasi. Di Anyer, misalnya, gelombang setinggi 1,5 meter diperkirakan akan tiba 38 menit setelah longsor terjadi.
Sementara, di pulau tetangga seperti Rakata atau Sertung, tsunami bisa setinggi 15-30 meter, yang akan tiba kurang dari semenit setelah longsor terjadi.
Dan, karena sistem peringatan tsunami lokal dibuat hanya mengandaikan gelombang raksasa hanya dipicu gempa tektonik, tak ada peringatan yang bisa diberikan untuk orang-orang yang kala itu berada di sepanjang pesisir Selat Sunda.
Saat dihubungi, Ahli Geologi Teknik dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Sadisun mengatakan, penelitian Dr Thomas Giachetti adalah menghitung potensi, bukan prediksi.
“Memang tidak dihitung secara kualitatif kejadian. Jadi sebenarnya bukan prediksi dalam arti menentukan hari ataupun tahun, tidak bisa. Tetapi potensi terjadi, ada, bagaimana karakteristik dihitung benar oleh Giachetti, prediksi dengan skenario,” kata Imam saat dihubungi Ide Nasional, Rabu (26/12/2018).
Imam mengatakan, memang harus ada kajian yang berani menyatakan seberapa besar potensi letusan dan bahaya lain yang ditimbulkan tsunami pada 22 Desember 2018 lalu atau efek yang bisa ditimbulkan Gunung Anak Krakatau.
“Itu harus, jadi prinsip mitigasi itu tidak harus tahu kapan terjadi, tapi lebih ke seberapa besar potensi terjadi dan kedua bagaimana karakateristik kalau terjadi. Sehingga kita bisa melakukan antisipasi, termasuk pemantauan early warning system. Memang, kadang-kadang menurut saya kurang diperhatikan,” kata dia.
Imam menilai, makalah dari Giachetti sangat bagus, karena benar-benar memperkirakan dengan banyak dasar, misalnya dari lereng arah barat daya yang sangat terjal dan letusan barat daya, posisi juga yang disebut juga tidak stabil.
Dia mengatakan, yang penting ke depan adalah waspada terhadap Gunung Anak Krakatau dan membangun sistem peringatan dini yang lebih mumpuni.
“Walau kita tahu peringatan dini dibuat sejak Aceh terjadi tsunami (2004) banyak buoy yang dipasang tidak berfungsi semua…karena tempat-tempat tertentu sangat rawan, ya mestinya ada kewajiban dari BNPB, BMKG dan Badan Geologi bersama-sama untuk terus membuat sistem peringatan dini menjadi berfungsi terus. Jangan terus enggak ada,” kata Imam.
Dia mengatakan, untuk ke depannya banyak antisipasi yang perlu dilakukan. Seperti, alat-alat yang sifatnya sederhana untuk memantau tsunami sebaiknya segera dipasang, diinstal. Tim pemantauan gunung api, terutama Anak Krakatau, juga harus intensif dan ketat terhadap gejala potensi letusan.
“Kemudian juga ini sayangnya kita belum bisa mendekat untuk memastikan, tapi ya banyak ahli yang berpendapat termasuk saya, ada bagian bagian dari hasil letusan gunung api yang mungkin masih bisa berguguran lagi, entah gara-gara letusan atau gempa yang dihasilkan pergerakan magma di bawah Gunung Anak Krakatau mengakibatkan gempa bumi vulkanik yang getarannya kita sebut sebagai tremor. Itu bisa memperlemah lereng-lereng yang ada,” kata dia.
Dia menyebut, secara umum ada sembilan hubungan antara gunung api dan tsunami. Pertama, gempa bumi vulkanik, kedua letusan gunung api di bawah laut, ketiga, ada material-material dari letusan gunung api yang mengalir ke laut, keempat kadang-kadang ada kolaps atau runtuhan dari kaldera, dan kelima lereng gunung api yang longsor ke laut.
Kemudian keenam adalah lahar dalam jumlah banyak menuju ke laut, ketujuh ada letusan yang ditimbulkan karena percampuran antara panas dari magma maupun batuan pijar gunung api yang bercampur air.
Hubungan delapan, ada dorongan atau hentakan kuat dari letusan yang mendorong ke permukaan air, dan sembilan adalah fenomena collapse of lava bases — magma yang keluar mengalir dan mati kemudian membentuk undukan atau hamparan, jatuh atau runtuh akibat terjangan lava cair.
“Saya sih memprediksi ada tiga yang mungkin terjadi di kasus Anak Krakatau. Yang utama itu yang kadang-kadang flank (lereng) Anak Krakatau yang mengarah barat daya runtuh,” kata Imam.
Peristiwa kolaps tersebut juga merontokkan dinding lama lama yang terbentuk dan menumpuk dari letusan-letusan sebelumnya, yang terjadi selama ratusan tahun.
“Kedua, didorong juga aliran piroplastik, letusan-letusan yang baru ini masuk ke laut, dan ketiga karena letusan terjadi menghasilkan dorongan dan tekanan,” kata Imam Sadisun.
Artikel yang berjudul “HEADLINE: Gelegar Gunung Anak Krakatau dan Tsunami yang Masih Mengintai” ini telah terbit pertama kali di:
No comments:
Post a Comment