Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor Yuno Abeta Lahay mengatakan, kegiatan rapat yang dilakukan pemerintahan di hotel memberikan sumbangan pendapatan besar bagi bisnis hotel.
“Kalau pusat pemerintahan pindah, otomatis Kota Bogor sudah tidak menjadi lagi destinasi MICE (meeting, incentive, convention, dan exhibition) lagi,” kata Yuno, Selasa, 27 Agustus 2019.
Meskipun dari korporasi atau perusahaan swasta ada yang menggunakan fasilitas hotel untuk kepentingan MICE, jumlahnya hanya sedikit.
“Kota Bogor itu okupansinya di week day terisi oleh pemerintahan yaitu sekitar 60-70 persen,” sebut Yuno.
Kendati proses pemindahan pusat pemerintahan ke Kalimantan Timur masih beberapa tahun lagi, mulai dari sekarang pengusaha hotel di Kota Bogor harus memikirkan bagaimana caranya agar tidak selalu menggantungkan sumber pendapatannya pada acara-acara pemerintah.
“Setelah diumumkan kemarin, artinya pemindahan itu positif dan kita harus cari segmen market baru,” ujar dia.
Menurutnya, untuk meningkatan okupansi, hotel fokus pada wisatawan, kalangan pebisnis, dan keluarga dibutuhkan kerja sama antar pelaku usaha perhotelan.
“Membentuk segmen market baru itu mesti barengan, mau dikemas kaya apa. Termasuk meningkatkan kulaitas SDM,” tambahnya.
Reynaldi Hasan
Artikel yang berjudul “Ibu Kota Pindah ke Kaltim, Begini Geliat Jakarta dan Bogor” ini telah terbit pertama kali di:
No comments:
Post a Comment